Tiga Menteri Atur Rotan

Jakarta, Padek—Tiga kementerian akan merilis paket kebijakan pelarangan bahan baku rotan yang meliputi rotan asalan dan setengah jadi. Tiga kementerian itu adalah Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Kehutanan.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan menyatakan, pembahasan kebijakan tersebut menunggu finalisasi. Awal pekan depan diharapkan bisa dilakukan pembahasan sehingga akhir bulan ini kebijakan tersebut dapat ditandatangani.
”Kami lakukan beberapa kali pembahasan yang melibatkan kementerian terkait, Kementerian Perekonomian, , surveyor, dan sejumlah kalangan. Setelah sekali pembahasan sebagai finalisasi, mudah-mudahan, 30 No vember kebijakan itu ditandatangani,” papar Deddy, akhir pekan lalu.
Paket kebijakan tersebut mencakup peraturan yang dikeluarkan menteri perdagangan, menteri perindustrian, dan men teri kehutanan. Deddy menjelaskan, menteri perdagangan mengeluarkan peraturan yang membahas larangan ekspor, pengaturan antarpulau, dan resi gudang. Menteri Perindustrian akan menetapkan pengembangan industri barang jadi yang sesuai dengan roadmap hingga 2014.
”Untuk 2012, ada semacam program antisipasi dampak dari pelarangan ekspor rotan di daerah sentra produksi maupun daerah pengembangan hasil rotan, seperti Sulawesi,” papar Deddy.
Menteri Kehutanan mengatur batas ambang lestari rotan. Akan ada aturan tentang batas yang boleh diambil dan dipotong. Peraturan tersebut semacam annual allowable cutting atau periode yang diperbolehkan untuk memotong rotan dalam setahun. Sebab, selama ini banyak yang memotong rotan dengan melewati ambang batas.
Deddy menguraikan, keluarnya paket kebijakan tersebut dila tarbelakangi komitmen untuk menjaga kelestarian bahan baku dan hutan. Ekspor tanpa batasan bisa berakibat pada habisnya bahan baku rotan dalam negeri.
Menteri Perdagangan juga berkeinginan untuk meningkatkan utilisasi industri. Sebab, sekarang utilisasi industri relatif rendah dengan nilai ekspor produk yang turun menjadi USD 100 juta. Nilai ekspor produk yang tertinggi pernah mencapai USD 300 juta. ”Alasan menurunnya industri rotan, berdasar hasil kajian kami, diakibatkan bahan baku yang tidak tersedia,” ungkapnya.(jpnn / http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=17811 / Senin, 28/11/2011 12:40 WIB)

Artikel Lain :