Kebun Indonesia, Rasa Standar Internasional

KOMPAS.com - Tak hanya tanaman , , dan kopi saja yang tumbuh subur di Banyuwangi, Jawa Timur. Wilayah paling ujung di timur Pulau Jawa itu, kini juga menghasilkan buah melon dan anggur. Produk holtikultura yang dikembangkan XII itu, bahkan telah menerobos dominasi buah impor di pasar lokal dan luar negeri .

Pertengahan Oktober lalu, pantai Pasewaran, yang biasanya tenang sudah dipenuhi puluhan pekerja kebun. Hari itu merupakan hari sibuk mereka, karena saat panen yang ditunggu-tunggu telah tiba.

Tiga tumpukan melon jenis apollo, honey dew , red aroma, dan sky rocket telah menggunung memenuhi pos penyortiran. Namun keranjang-keranjang melon terus berdatangan menambah tinggi tumpukan buah.

“Hari ini sibuk panen, jumlahnya banyak dan rata-rata berbuah maksimal , kami harus ekstra hati-hati memanennya,” kata Salmidi, salah satu buruh yang ikut memanen melon, ketika itu.

Melon memang menjadi komoditas baru di Pasewaran, daerah kawasan pantai di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Tanaman itu baru dikembangkan setahun terakhir, namun telah menghasilkan panen di atas rata-rata tanam kebun biasa.

Satu hektar lahan melon mampu menghasilkan 30 ton buah, lebih banyak dari hasil panen melon di kebun biasa yang mencapai 22 ton.

Dari sisi kualitas, hampir rata-rata melon yang dipanen berbobot 1,5 kg, dengan kondisi kulit buah yang mulus. Soal rasa, hasil uji refraktometer menunjukkan tingkat kemanisan melon mencapai level 15 brick, lebih tinggi dari standar yang mensyaratkan tingkat kemanisan di level 11.

Fauzi Ismail, pengelola kebun Pasewaran mengatakan PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) memang menggarap serius perkebunan holtikultura di Pasewaran. Ketepatan pengairan, pemupukan, dan perawatan tanaman dan buah sangat diperhatikan. Melon misalnya, harus dibungkus agar buahnya tetap terjaga hingga masa panen tiba.

Tidak hanya melon, perkebunan Pasewaran juga mempunyai kebun anggur yang telah berproduksi . Anggur sendiri menjadi salah satu komoditas istimewa karena merupakan komoditas baru di Banyuwangi.

Ada tiga jenis anggur yang ditanam di Pasewaran yakni jenis Prabu Bestari yang berwarna merah keunguan, Jestro AG 60 yang berwarna hitam, dan anggur Kediri yang berwarna kuning.

Ketiga-tiganya sudah berbuah walau masih berumur kurang dua tahun. Jestro AG 60 misalnya, tumbuh subur menggerombol di sela-sela sulur petak kebun seluas 7 hektar.

Anggur silangan dari dan lokal ini tak berbiji sama sekali. Rasanya pun manis, dengan tingkat kemanisan mencapai 24 brick lebih tinggi, dibandingkan dengan standar pasar yang hanya mensyaratkan 20 brick. Anggur Kediri pun tak kalah manis, dengan paduan rasa asam segar yang menjadi ciri khas lokalnya.

Perkebunan pasewaran juga diisi dengan tanaman-tanaman buah lain seperti buah naga, jambu air, dan mangga. Tanaman-tanaman itu nantinya akan menjadi pemasok buah-buahan utama, selain sebagai tempat agrowisata.

Karet dan kopi

Made Susilatama, Manajer Perkebunan Pasewaran mengatakan PTPN XII, sengaja mencetak perkebunan holtikultura untuk menangkap peluang pasar. Setahun ini pasaran utama PTPN XII seperti karet sedang lesu, padahal komoditas itu merupakan produk andalan perkebunannya.

Harga karet pada Januari hingga November 2011 hanya 4,6 dollar AS per kg, dan kemungkinan pada Desember nanti bisa turun menjadi 4 dolar AS karena masih terdampak krisis eropa.

Hasil perkebunan lain seperti kelapa juga tak banyak menjanjikan. Kontribusi hasil pekebunan kelapa per hektar misalnya hanya mencapai Rp 500.000 per tahun. Adapun gula kelapa juga hanya menyumbang Rp 5 juta per hektar per tahun.

“Karena itulah kami mencoba mengembangan holtikultura. Tidak hanya di Banyuwangi tapi juga di Blitar hingga Malang. Hasil panen buah-buahan ini memang tak bisa menggantikan karet atau kopi yang menjadi andalan kami, namun setidaknya membantu cashflow (aliran dana segar) di perusahaan,” kata Made.

Di sisi lain, pasar buah lokal masih sangat terbuka, namun sedikit petani yang mampu bersaing untuk memperebutkan pasar dengan buah impor. Akibatnya 80 persen pasar lokal dikuasai buah impor.

Agar produk holtikultura mampu bersaing dan dapat menghasilkan keuntungan, riset tentang tem pat, bibit hingga pasar pun dilakukan jauh-jauh hari oleh PTPN XII.

Perawatan perkebunan pun dilakukan secara intensif. Sistem pengairan misalnya, memakai sistem irigasi tetes. Air dialirkan lewat pipa, dengan demikian, jumlah air yang mengalir di perkebunan bisa dikontrol setiap saat.

Bibit pun dipilih secara ketat . Bibit anggur disilangkan dengan anggur lokal agar bisa bertahan di iklim tropis namun mempunyai kualitas buah yang tak kalah dengan luar negeri. Tanaman buah juga diberlakukan khusus. Melon yang sudah berbuah dibungkus hingga panen tiba, agar tetap terlihat mulus tak termakan hewan.

Dengan cara-cara itu hasil panen kebun Pasewaran bisa melimpah dan dengan mudah menembus pasar dalam negeri serta luar negeri. “Sebelum panen, sudah banyak supermarket besar yang meminta anggur dan melon kami masuk ke gerainya,” kata Made.

Sebanyak 100 ton atau 80 persen melon di Pasewaran pun masuk ekspor ke Uni Emirat Arab dan Singapura. Anggur produksi perkebunan itu pun mampu bersanding dengan anggur-anggur impor di jaringan supermarket ternama.

Ramainya pasar buah lokal juga diharapkan membangkitkan semangat petani untuk memproduksi buah berkualitas baik. Setidaknya pasar sudah membuktikan bahwa buah lokal berkualitas pun mampu bersaing dengan buah impor.(Siwi Yunita Cahyaningrum)

Artikel Lain :

Post Tagged with , , , ,