Harga Minyak Melemah Setelah Arab Saudi Tingkatkan Produksi

Harga minyak mentah melemah pada penutupan transaksi perdagangan akhir pekan Jumat (6/5), setelah naik pada hari Kamis mencapai level $ 120 perbarel. Pasar mulai stabil setelah ada laporan Arab Saudi meningkatkan produksinya lebih dari setengah juta barel per hari untuk memenuhi kekurangan produksi Libya akibat konflik berkepanjangan, BBC melaporkan.

Amerika Serikat dan Arab Saudi bergegas meyakinkan pasar global pada pasokan minyak setelah turunnya produksi Libya akibat protes terhadap pemerintahan Qadzafi.

Kecemasan utama melanda Eropa yang merupakan importir terbesar dari ekspor Libya, untuk itu Arab Saudi bergegas meningkatkan produksi hingga mencapai lebih dari sembilan juta barel per hari, dimana terjadi peninggkatan 700 ribu barel per hari dari tingkat produksi normal.

Produksi Libya tidak lebih dari 1,7 juta barrel per hari, diekspor 1,3 juta barel per hari, hanya merupakan sejumlah kecil konsumsi harian minyak dunia yang diperkirakan mencapai 90 juta barel per hari.

Tetapi pasar minyak sangat cepat peka terhadap gangguan dalam produksi dan penawaran, dengan pasokan melebihi permintaan pasar, tetapi kehilangan pasar untuk sekitar setengah juta barel pasokan menjadi jaminan peningkatan spekulasi dan mendorong harga lebih tinggi.

Ketakutan utama pasar bukan karena kekurangan pasokan dan permintaan, tetapi kehilangan banyak cadangan tersedia selain kepedulian dari kemungkinan penularan protes ke lain di wilayah ini.

Sebagaimana Qadzafi memperingatkan ancaman pecahnya perang saudara dan kemungkinan fasilitas minyak Libya akan rusak akan berdampak pada terhentinya ekspor minyak Libya untuk jangka waktu cukup lama.

Ini merupakan kesempatan Arab Saudi, produsen terbesar dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), untuk menguji pentingnya penambahan kapasitas produksi yang mereka miliki yang berkisar antara dua dan empat juta barel per hari.

Meskipun beberapa komentar pesimis, namun harga minyak sejauh ini bukan merupakan ancaman nyata bagi pemulihan ekonomi global, setidaknya tidak lebih sulit daripada faktor lain untuk menjaga pemulihan yang rapuh.

Harga minyak level tertinggi dalam seminggu terakhir masih jauh lebih rendah daripada tingkat tertinggi yang terjadi pada musim panas 2008, ketika harga mendekati $ 150 per barel.

(http://www.wartanews.com/read/Timur-Tengah/5bd1488f-383f-f5e2-55c6-8d8f1c8a5aaa/Harga-Minyak-Melemah-Setelah-Arab-Saudi-Tingkatkan-Produksi)

Artikel Lain :