Ekspor Karet Berpotensi Turun

Ekspor Karet Berpotensi Turun – Harga Internasional Melandai

JAKARTA— komoditas diperkirakan terus menurun pada kuartal pertama tahun depan. Turunnya ekspor tersebut akibat dari harga internasional yang melandai. mengutip dari penutupan perdagangan di Tokyo Commodity Exchange mencatat harga karet untuk penyerahan April melemah sebesar 3,7 persen yang berada di level JPY 263,5 per kg atau setara dengan USD 3,415 per kg.

Ketua Dewan Karet Nasional Azis Pane mengatakan pelemahan harga tersebut karena dampak resesi global, sehingga membuat negara produsen mengurangi permintaan komoditas karet. Dikatakan, efek dari pelambatan ekonomi di Eropa baru dirasakan sekarang dan bakal berpengaruh signifikan hingga kuartal kedua tahun depan. “Ada dampak dari resesi global. Ditambah banjir Thailand juga berpengaruh,” katanya, kemarin (23/11).

Disebutkan, sejumlah negara tujuan menunjukkan gejala bakal mengurangi permintaan. Seperti Jepang menunda permintaan karet, tapi sejauh ini untuk pembatalan belum ada. Karena, pihaknya akan bersikap tegas pada pembeli yang melakukan pembatalan. “Kami tidak mau dipermainkan, sehingga jangan seenaknya saja mereka membatalkan pembelian,” tandas dia.

Dia memprediksi dampak dari pengurangan permintaan tersebut akan mempengaruhi ekspor. Saat ini permintaan karet mengalami penurunan sekitar 10-20 persen. Diperkirakan, kondisi tersebut akan terus berlanjut hingga tahun depan. Karena pelaku usaha dalam negeri tidak akan melepas ke pasaran kalau harga jatuh.”Bisa jadi (ekspor turun), karena kami tidak mau banting harga. Sekarang, permintaan berkurang 10-20 persen. Tahun depan bisa lebih besar. Tercatat, harga karet USD 3,5 per kg. Bila nanti turun hingga di bawah USD 3 per kg kami tidak akan jual,” tandas Azis. Selama ini ekspor terbesar ke Tiongkok dengan porsi 30-40 persen. Disusul, Jepang dan Korea.

Padahal, sebelum ini ekspor karet menunjukkan kinerja menggembirakan. Data Kementerian Perdagangan tentang ekspor karet dan produk karet periode Januari-September 2011 mengalami kenaikan sebesar 69,51 persen dibanding periode sama tahun lalu. Yakni, ekspor hingga September tahun ini menembus USD 11,25 miliar atau naik dari tahun lalu USD 6,64 miliar. Bahkan, karet menyumbang pertumbuhan 5,02 persen terhadap ekspor non migas.

Sedangkan, berdasar analisis perkembangan harga Bappebti mengungkapkan penurunan harga disebabkan melemahnya permintaan karet dari Tiongkok. Apalagi negara tersebut merupakan importir terbesar karet. Untuk mengatasi tren penurunan harga, ITRC (International Tripartite Rubber Council) yang terdiri dari Thailand, Malaysia dan Indonesia berencana membuat daftar hitam bagi pembeli yang membatalkan atau menunda pesanan. Sedangkan di dalam negeri juga terjadi tren penurunan harga karet. Di Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, harga karet mengalami penurunan. Saat ini, harga berada di level Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per kg. Padahal, sebelum ini mencapai Rp 12.000 hingga Rp 20.000 per kg. Begitu juga Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, harga getah karet di tingkat petani mengalami pelemahan akibat mulai tingginya curah hujan. Tercatat, harga karet turun dari Rp6.000 menjadi Rp5.000 per kg. (res)

Artikel Lain :